Inovasi Branding Produk Olahan Ikan Katowo

Oleh : Tim Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Muslim Buton
Buton,madingsultracom— Sumber daya alam di sektor perikanan tidak lagi sebatas bahan pangan yang dikonsumsi masyarakat. Aneka ragam komoditi yang dihasilkan laut juga dapat memiliki potensi provit maksimal bila di branding dengan baik. Contohnya produksi Ikan Katowo binaan kelompok PKK Boneatiro, di Desa Boneatiro, Kecamatan Kapontori, Kabupaten Buton.
Menjadi perhatian tim dosen Universitas Muslim Buton melalui Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dana Hibah Kemendiktisaintek Tahun 2026. Berperan sebagai Ketua Yusman Sutoyo, bersama anggota Mardiana, Veni Rosnawati, Ledy Diana, dan Lilis Alfiani, Dengan skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, melaksanakan program “Pemberdayaan Kelompok PKK Boneatiro melalui Digitalisasi dan Inovasi Kemasan Produk Lokal Ikan Katowo”.
Mengangkat Potensi Ikan Katowo
Ikan Katowo merupakan produk pangan lokal yang berbahan dasar Ikan Teri. Dari ikan teri segar, pembuatan ikan Katowo melalui proses pematangan dengan cara diasapi menggunakan kayu bakar, adapula yang dikeringkan bermodalkan sinar matahari. Meskipun masih dilakukan secara tradisional dan peralatan seadanya, Olahan pangan lokal siap saji asal Desa Boneatiro ini memiliki potensi besar untuk dikembangkan.
Satu hal yang menjadi tugas penting dalam menjaga eksistensi produksi Ikan Katowo sebagai sumber ekonomi masyarakat adalah bagaimana mem-branding produk agar optimal dalam proses pemasaran.
Dalam dunia pemasaran untuk menarik minat pembeli bukan hanya bergantung pada rasa. Daya tarik kemasan yang memanjakan mata pembeli juga harus menjadi pertimbangan memasuki dunia pasar modern.
Apabila dikelola dengan pendekatan teknologi tepat guna, inovasi branding, dan pemasaran digital, Ikan Katowo dapat dikembangkan menjadi produk lokal yang mampu bersaing di pasaran. Selain nilai jual lebih tinggi. Pencatatan biaya produksi, pemasaran dan hasil penjualan dapat dilakukan secara sistematis.
Atas dasar kondisi tersebut, program PkM ini tidak hanya diarahkan untuk memberikan pelatihan, tetapi juga membangun kemampuan kelompok agar mampu mengembangkan usaha secara bertahap dan berkelanjutan.

Pelatihan Dilakukan Secara Bertahap
Pelaksanaan kegiatan dilakukan beberapa tahapa, yaitu sosialisasi, pelatihan, penerapan teknologi, pendampingan, evaluasi, serta penguatan keberlanjutan program.
Pada tahap pelatihan, anggota PKK mendapatkan pembekalan mengenai pengolahan ikan Katowo secara lebih terstruktur. Materi tidak hanya berkaitan dengan proses produksi, tetapi juga mencakup kebersihan, mutu produk, teknik pengasapan, penirisan, penimbangan, penyimpanan, pengemasan, hingga pemasaran.
Pertama, pelatihan pengolahan dan pengasapan. Anggota PKK diberikan pengetahuan dan keterampilan mengenai tahapan produksi ikan Katowo, mulai dari persiapan bahan baku hingga proses pengasapan. Penekanan diberikan pada kebersihan, efisiensi proses, dan konsistensi mutu produk.
Kedua, penerapan teknologi tepat guna. Mitra diperkenalkan dengan sejumlah peralatan yang mendukung proses produksi, antara lain oven asap tungku, rak pengasapan, rak peniris, timbangan digital, freezer box, dan mesin vacuum sealer.
Penerapan teknologi tersebut diharapkan dapat membantu kelompok menghasilkan produk dengan proses yang lebih terukur dan higienis. Penggunaan timbangan digital, misalnya, membantu memastikan berat produk lebih konsisten, sedangkan vacuum sealer digunakan untuk membantu menghasilkan kemasan yang lebih rapi dan terlindungi.
Ketiga, inovasi kemasan dan branding. Kemasan menjadi salah satu bagian penting dalam pengembangan produk pangan. Anggota kelompok mendapatkan pelatihan mengenai penggunaan kemasan yang lebih higienis, teknik pengemasan vakum, serta pentingnya label dan identitas produk.
Identitas produk tidak hanya berfungsi sebagai informasi bagi konsumen, tetapi juga upaya membangun citra ikan Katowo sebagai produk lokal khas daerah.
Proses pengurusan dan penyempurnaan aspek legalitas kemasan dan mutu produk harus dilakukan untuk menguatkan kesiapan produk bersaing dalam pasar skala besar.
Keempat, pelatihan manajemen usaha. Pengembangan produk tidak akan berjalan optimal tanpa pengelolaan usaha yang baik. Kelompok mendapatkan pemahaman dasar mengenai pencatatan bahan baku, biaya produksi, hasil penjualan, arus kas, dan keuntungan.
Pencatatan penting agar dapat mengetahui apakah usaha memberikan keuntungan yang signifikan, dan menjadi tolak ukur dalam mengambil keputusan usaha berikutnya.
Kelima, pemasaran digital. Perubahan perilaku konsumen mendorong pelaku usaha tidak hanya mengandalkan pemasaran secara regular. Anggota PKK mulai diperkenalkan dengan pemanfaatan media sosial, khususnya Facebook, sebagai sarana promosi produk.
Dengan pemasaran digital, produk ikan Katowo diharapkan tidak hanya dikenal oleh masyarakat sekitar Boneatiro, tetapi secara bertahap dapat menjangkau konsumen yang lebih luas.

Dari Produksi Manual Menuju Produk Lebih Siap Pasar
Pelaksanaan kegiatan menunjukkan adanya perkembangan pada pemahaman dan keterampilan anggota kelompok. Anggota PKK mulai memahami bahwa kualitas produk tidak hanya ditentukan oleh bahan baku, tetapi juga oleh proses pengolahan, kebersihan, penanganan setelah pengasapan, penimbangan, penyimpanan, hingga pengemasan.
Mitra juga mulai mampu memanfaatkan teknologi tepat guna dalam beberapa tahapan produksi. Produk diarahkan agar memiliki mutu yang lebih konsisten, lebih higienis, serta memiliki daya simpan yang lebih baik melalui penggunaan teknologi pengemasan vakum dan penyimpanan.
Di sisi lain, anggota kelompok mulai memahami bahwa kemasan dan branding bukan sekadar pelengkap. Kemasan merupakan bagian dari strategi pemasaran yang dapat memengaruhi persepsi konsumen terhadap kualitas dan nilai sebuah produk.
Pemahaman mengenai pencatatan keuangan juga mulai diperkuat. Kelompok diarahkan untuk membiasakan pencatatan biaya bahan baku, biaya produksi, penjualan, dan keuntungan sehingga kegiatan usaha dapat dikelola secara lebih terukur.
Perempuan Pesisir dan Penguatan Ekonomi Keluarga
Program ini memiliki arti penting bukan hanya dari sisi peningkatan keterampilan produksi, tetapi juga dalam memperkuat peran perempuan dalam pemanfaatan sumber daya ekonomi lokal.
Melalui Kelompok PKK, perempuan di Desa Boneatiro didorong untuk tidak hanya menjadi konsumen hasil perikanan, tetapi juga menjadi pelaku yang mampu mengolah, mengemas, memasarkan, dan mengembangkan produk lokal.
Dengan demikian, ikan Katowo dapat menjadi salah satu pintu masuk untuk membangun kegiatan ekonomi produktif berbasis potensi desa.
Pemberdayaan tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan pendapatan keluarga sekaligus memperkuat keberadaan produk pangan lokal sebagai bagian dari identitas ekonomi masyarakat Boneatiro.
Menyiapkan Usaha agar Berkelanjutan
Program PkM ini tidak berhenti pada pelaksanaan pelatihan. Keberlanjutan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program.
Teknologi yang diperkenalkan dirancang agar sesuai dengan skala usaha rumah tangga sehingga dapat digunakan oleh kelompok secara berkelanjutan.
Dalam memperkuat keberlanjutan kerja sama, program juga diarahkan pada penguatan kelembagaan melalui penandatanganan MoU dan MoA antara pihak terkait dengan Desa Boneatiro.
Program memiliki sejumlah target pengembangan, antara lain peningkatan kapasitas produksi dari sekitar 10 kg per hari menuju 25–30 kg per hari, pengembangan minimal tiga inovasi produk, peningkatan harga jual sekitar 50–70 persen, serta peningkatan kemampuan kelompok dalam melakukan pemasaran digital.
Namun, angka tersebut merupakan target program dan belum diposisikan sebagai angka realisasi sebelum dilakukan pengukuran lapangan secara menyeluruh pada tahap evaluasi berikutnya.
Teknologi, Kemasan, dan Digitalisasi sebagai Jalan Baru Produk Lokal
Pengalaman Kelompok PKK Boneatiro menunjukkan bahwa pengembangan produk lokal membutuhkan pendekatan yang menyeluruh. Produk yang memiliki potensi tidak cukup hanya diproduksi, tetapi perlu didukung oleh teknologi, standar kebersihan, kemasan yang baik, branding, manajemen usaha, dan strategi pemasaran.
Ikan Katowo menjadi contoh bagaimana potensi pangan lokal dapat diarahkan menuju produk yang memiliki nilai tambah lebih tinggi apabila masyarakat mendapatkan pendampingan dan akses terhadap teknologi yang sesuai.
Melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, kelompok masyarakat, pemerintah desa, dan dukungan pendanaan Kemendiktisaintek, program pemberdayaan ini diharapkan dapat menjadi langkah awal bagi tumbuhnya usaha kelompok yang lebih mandiri.
Pada akhirnya, inovasi terhadap ikan Katowo bukan hanya tentang mengubah cara mengolah ikan, tetapi juga tentang mengubah cara masyarakat melihat potensi lokal dari sekadar hasil perikanan menjadi peluang usaha, sumber pendapatan, dan produk unggulan desa.
Ucapan Terima Kasih
Tim pelaksana menyampaikan terima kasih kepada Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) atas dukungan pendanaan Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun 2026. Apresiasi juga disampaikan kepada Universitas Muslim Buton, Kelompok PKK Boneatiro, Pemerintah Desa Boneatiro, serta seluruh pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan pemberdayaan ini.
