Wakili Wali Kota di Pesta Adat Bugi, La Ode Aswad Tegaskan Komitmen Pelestarian Budaya

0
Wakili Wali Kota di Pesta Adat Bugi, La Ode Aswad Tegaskan Komitmen Pelestarian Budaya

O

👁️ 34 dibaca
Asisten I Setda Kota Baubau, La Ode Aswad saat memberikan sambutan pada pesta adat di Kelurahan Bugi.

Baubau,madingsultra.com — Di tengah kehidupan masyarakat yang terus bergerak mengikuti perkembangan zaman, tradisi dan kearifan lokal tetap menjadi bagian penting dalam menjaga identitas daerah. Pesta adat menjadi salah satu ruang bagi masyarakat untuk bersilaturahmi, bersyukur, sekaligus mewariskan nilai-nilai budaya kepada generasi berikutnya.

Pesta adat masih hidup di sejumlah wilayah di Kota Baubau, meski pelaksanaannya belum terdapat di seluruh kelurahan. Tradisi tersebut digelar berdasarkan kearifan lokal masing-masing wilayah dan kesepakatan perangkat adat setempat.

Asisten I Sekretariat Daerah Kota Baubau, La Ode Aswad, mengatakan pemerintah daerah mendukung pelaksanaan pesta adat di Kota Baubau, termasuk kegiatan kebudayaan di daerah lainnya. Dukungan tersebut sejalan dengan kewenangan pemerintah kabupaten/kota dalam upaya pelestarian budaya.

“Jadi salah satu kewenangan pemerintah di bidang kebudayaan itu adalah melestarikan. Melestarikan itu wujudnya seperti pesta adat. Kalau itu berkaitan dengan ekspresi budaya tak benda, contohnya menyelenggarakan festival atau dilombakan yang diikuti masyarakat,” kata la Ode Aswad ketika di temui madingsultra.com di kantor wali kota Baubau, Jumat (28/8/2026)

La Ode Aswad menyebut Kota Baubau memiliki beragam kearifan budaya lokal yang telah diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya kabanti yang telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda untuk Kota Baubau.

“Nah, salah satu prasyaratnya adalah begitu diakui maka kita harus selalu bagaimana memfestivalkan itu, festival kabanti atau festival budaya lainnya. Berkaitan dengan pelestarian budaya ini, saya menyampaikan sejalan dengan visi dan misi wali kota sebagai kota budaya, ramah, cerdas, sejahtera dan bermartabat,” ujarnya.

Ia menambahkan, keberpihakan terhadap pelestarian budaya dan kearifan lokal menjadi salah satu bagian penting dalam menopang visi dan misi Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau.

“Nah untuk menopang visi misi wali kota salah satunya adalah bagaimana keberpihakan kita melestarikan budaya kearifan lokal ini,” katanya.

Pada Kamis (27/8/2026), La Ode Aswad mewakili Wali Kota Baubau H. Yusran Fahim menghadiri pesta adat bersama masyarakat Kelurahan Bugi, Kecamatan Sorawolio. Ia mengapresiasi kegiatan tersebut sebagai bentuk nyata masyarakat dalam menjaga tradisi yang diwariskan para leluhur.

Ia menyebut sejumlah pesta adat yang masih dilaksanakan di berbagai wilayah Kota Baubau, di antaranya kasambu-Sambu di Kelurahan Kolese, Busiano Liwu di Kelurahan Kaisabu Baru, Kadiuano Liwu di Kelurahan Lowu-Lowu, Pesta Adat Ma’ata’a di Kelurahan Gonda Baru dan Wawono Ta’U di Kelurahan Liabuku.

“Kita ini bersyukur kepada leluhur kita, kepada orang-orang tua kita terdahulu, telah menciptakan pesta adat ini,” katanya.

Menurutnya, keberadaan berbagai tradisi tersebut merupakan kekayaan budaya yang lahir dan tumbuh di tengah masyarakat, sehingga tidak dapat dibuat atau dikarang-karang.

“Kalau di daerah lain masih dicari-cari, kita sudah ada. Dan kearifan budaya lokal tidak bisa dikarang-karang, memang lahir, asal tumbuhnya sejak orang tua kita dahulu sehingga tugas kita adalah melestarikan,” katanya.

Ia mengajak masyarakat di kelurahan dan kecamatan untuk menginventarisasi berbagai kearifan lokal yang masih hidup di wilayah masing-masing agar dapat bersama-sama dilestarikan sebagai peninggalan para leluhur.

Menurutnya, pesta adat juga memiliki makna sosial karena menjadi ruang yang mempertemukan masyarakat dari berbagai latar belakang. Perbedaan pekerjaan, kepentingan maupun pilihan politik dapat melebur ketika masyarakat berkumpul dalam satu kegiatan budaya.

“Kemarin dari warga Cia-Cia Laporo datang dari berbagai penjuru dan kumpul satu tempat di Baruga. Tidak ada perbedaan, yang kerja, perbedaan pilihan politik, petani. Budaya menyatukan kita,” katanya.

Selain mempererat hubungan masyarakat, pesta adat juga menjadi ruang bagi generasi muda untuk mengenal tradisi sekaligus menerima nasihat dari orang tua.

“Pesta adat ini mempersatukan generasi muda, juga menjadi ruang orang tua memberikan nasihat-nasihat kepada generasi muda, karena kita semua menghindari hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.

Ia menjelaskan, pesta adat telah dilaksanakan di beberapa kelurahan, namun belum semua wilayah memiliki tradisi tersebut. Waktu pelaksanaannya juga berbeda-beda sehingga pesta adat belum dapat dimasukkan ke dalam kalender kegiatan daerah.

Pelaksanaan pesta adat, kata dia, ditentukan berdasarkan kesepakatan perangkat adat masing-masing wilayah. Misalnya di Kelurahan Kolese, pesta adat dilaksanakan setelah Lebaran sebagai bentuk syukuran sekaligus menjadi momentum warga yang merantau untuk pulang dan mengikuti kegiatan tersebut.

Kepada masyarakat Kelurahan Bugi, ia berpesan agar pesta adat terus dijaga sebagai ruang untuk mempererat persatuan di tengah perbedaan kepentingan, latar belakang, pekerjaan maupun pilihan politik.

Ia berharap semangat kebersamaan tersebut terus dipelihara masyarakat sebagai bagian dari upaya membangun daerah secara bersama-sama, sejalan dengan tagline Wali Kota dan Wakil Wali Kota Baubau, yakni kerja bersama.

“Pesta adat ini dapat mempersatukan kita, berbeda-beda kepentingan, latar belakang, pekerjaan atau pilihan politik dengan adanya pesta adat menjadi satu. Seperti taglinenya wali kota dan wakil wali kota Baubau, kerja bersama. Kalau pesta biasa mungkin tidak semeriah itu,” pungkasnya.

Laporan: Alyakin

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *