Pemkot Baubau Berikan Penghormatan kepada Drs. Moh Kasim saat Pemindahan Pusara

0
Pemkot Baubau Berikan Penghormatan kepada Drs. Moh Kasim saat Pemindahan Pusara
👁️ 28 dibaca
Wawali Baubau, Wa Ode Hamsinah Bolu didampingi Sekda, La Ode Darussalam dan istri Wali Kota Baubau, Hj. Sitti Aryati, menyerahkan almarhum Drs. Moh Kasim kepada pihak keluarga sebelum prosesi pemindahan pusara ke Kelurahan Wajo. (Foto: Alyakin)

Baubau,madingsultra.com — Suasana khidmat menyelimuti rumah keluarga almarhum Drs. Moh Kasim, Sabtu (30/5/2026). Puluhan kerabat, tokoh masyarakat, dan jajaran Pemerintah Kota (Pemkot) Baubau berkumpul memberikan penghormatan sebelum pusara mantan Bupati Buton periode 1964–1969 itu dipindahkan ke pemakaman keluarga di Kelurahan Wajo.

Pemindahan pusara dilakukan dari pemakaman muslim Kelurahan Bataraguru ke pemakaman keluarga di wilayah Kelurahan Wajo sesuai keinginan keluarga. Sebelum diberangkatkan ke lokasi pemakaman baru, digelar prosesi penyerahan almarhum dari Pemkot Baubau kepada pihak keluarga yang kemudian dilanjutkan dengan penghormatan bersama.

Usai prosesi tersebut, keranda almarhum diangkat personel Satpol PP menuju pemakaman keluarga di Kelurahan Wajo. Sejumlah pejabat Pemkot Baubau turut mengiringi perjalanan tokoh yang pernah memimpin Kabupaten Buton pada periode 1964–1969 itu.

Mewakili Wali Kota Baubau, hadir Wakil Wali Kota Baubau Wa Ode Hamsinah Bolu. Turut hadir Ketua TP PKK Kota Baubau Hj. Sitti Aryati, Sekretaris Daerah Kota Baubau La Ode Darus Salam, para asisten, serta sejumlah kepala OPD hingga ke lokasi pemakaman.

Di tengah prosesi yang berlangsung khidmat tersebut, berbagai kenangan tentang pengabdian Moh Kasim bagi Buton kembali mengemuka. Sosoknya dikenang sebagai salah satu tokoh yang turut mewarnai perjalanan awal pemerintahan dan pembangunan daerah.

Tokoh Penting di Masa Awal Sulawesi Tenggara

Pada kesempatan itu, Wakil Wali Kota Baubau Wa Ode Hamsinah Bolu menyatakan Drs. Moh Kasim sebagai tokoh penting pada masa awal pembentukan Provinsi Sulawesi Tenggara dan sosok yang berjasa bagi masyarakat Buton.

“Beliau adalah tokoh yang utama di masa awal pembentukan Provinsi Sulawesi Tenggara. Menjadi wakil kita, salah satu dari tokoh terpenting yang mewakili masyarakat Buton di masa-masa awal pemerintah Sulawesi Tenggara,” kata Wa Ode Hamsinah Bolu.

Di mata Wa Ode Hamsinah, almarhum merupakan figur pemimpin yang memiliki kapasitas luar biasa di usia muda. Moh Kasim disebut telah menjadi Bupati Buton pada usia 35 tahun.

Pemimpin Muda yang Berprestasi

Wa Ode Hamsinah menuturkan, kepemimpinan generasi terdahulu terbentuk dari perpaduan adat, budaya, dan agama yang kuat sehingga melahirkan sosok pemimpin matang dan berprestasi.

“35 tahun sudah mampu menjadi pemimpin Buton, Kabupaten Buton saat itu. Dan bukan karena alasan yang lain-lain, tetapi memang karena prestasi yang tidak hanya teruji di tanah Buton, tetapi juga hingga ke Makassar, hingga ke Yogyakarta,” katanya.

Menurutnya, pencapaian tersebut menunjukkan bahwa kualitas dan kemampuan Moh. Kasim telah mendapat pengakuan jauh melampaui daerah asalnya.

Teladan bagi Generasi Muda

Wa Ode Hamsinah juga mengajak generasi muda Buton menjadikan sosok Moh Kasim sebagai teladan dalam membangun daerah.

“Kita jadikan ini beliau sebagai tauladan. Mari kita petik nilai-nilai baik yang sangat syarat di dalam usia beliau yang singkat,” ujarnya.

Warisan Pembangunan Sumber Daya Manusia

Ditempat yang sama, perwakilan keluarga Moh Abduh mengatakan semangat pembangunan sumber daya manusia menjadi salah satu warisan penting yang ditinggalkan almarhum selama memimpin Buton.

“Semangat beliau dalam membangun Kota Baubau itu salah satu pilar yang diutamakan adalah pembangunan sumber daya manusia. Di masa itu sulit sekali untuk mengembangkan SDM karena keterbatasan baik dosen, tenaga pengajar maupun sarana-prasarana,” kata Moh. Abduh.

Di tengah berbagai keterbatasan tersebut, kata Moh. Abduh, Moh. Kasim tetap berupaya membangun fondasi pendidikan. Salah satunya melalui pendirian Universitas Sulawesi Tenggara (Unsultra) pada awal 1960-an.

“Beliau tetap bertekad dengan ditunjukkan pernah didirikannya Unsultra di zamannya beliau, dan itu di awal tahun 60-an,” ujarnya.

Sosok Cerdas dan Menguasai Banyak Bahasa

Tak hanya dikenal sebagai pemimpin, Moh. Kasim juga dikenang sebagai sosok cerdas dengan kemampuan bahasa yang sangat baik.

“Bahasa daerah bukan cuma bahasa Buton, bahasa Cia-Cia, bahasa Pancana itu dikuasai semua oleh beliau. Selain itu bahasa asing, bahasa Inggris, bahasa Perancis, bahasa Jepang dikuasai dengan sangat baik,” katanya.

Putra Buton yang Menembus Pendidikan Tinggi

Drs. Moh Kasim lahir dengan nama Muhammad Kasim di Buton pada 16 Juni 1929. Ia merupakan putra pasangan H. Abdur Rahman dan Wa Iyza. Sejak kecil, Moh Kasim dikenal memiliki minat besar terhadap pendidikan dan menunjukkan kemampuan intelektual yang menonjol.

Berbekal tekad kuat untuk maju, Moh Kasim menjadi salah satu putra Buton pertama yang berhasil menempuh pendidikan tinggi di Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta sekitar tahun 1950-an. Pencapaian itu terbilang langka pada masanya, terlebih ia berasal dari daerah yang masih memiliki keterbatasan akses pendidikan.

Akademisi dengan Kapasitas Nasional

Setelah menyelesaikan pendidikan, Moh Kasim mengabdikan diri di dunia akademik. Ia tercatat pernah menjadi dosen di sejumlah perguruan tinggi di Makassar, termasuk Universitas Veteran Makassar pada sekitar 1960-an. Selain dikenal cerdas, almarhum juga menguasai sejumlah bahasa asing seperti Inggris, Jepang, dan Belanda.

Kemampuan intelektual dan penguasaan bahasa membuat Moh Kasim dipercaya pemerintah pusat menjadi delegasi Indonesia dalam misi studi penataan kota ke Amerika Serikat pada 1963. Penunjukan tersebut menjadi salah satu bukti kapasitasnya di tingkat nasional.

Memimpin Buton di Usia 35 Tahun

Pada 1964, Moh Kasim dilantik menjadi Bupati Buton kedua menggantikan La Ode Abd. Halim yang menjabat pada periode 1960–1964. Di usia yang masih relatif muda, sekitar 35 tahun, ia dipercaya memimpin Kabupaten Buton pada masa transisi penting pemerintahan modern pasca-kesultanan.

Namun, mantan Bupati Buton itu menghadapi tantangan besar, mulai dari membangun tata kelola pemerintahan modern, menjaga harmoni sosial masyarakat, hingga menyesuaikan kebijakan nasional dengan kondisi sosial budaya masyarakat Buton saat itu. Di tengah berbagai keterbatasan, ia dikenal memberi perhatian besar pada pembangunan sumber daya manusia melalui sektor pendidikan.

Jejak yang Tetap Dikenang

Dalam kehidupan keluarga, Moh Kasim menikah dengan Ainun Djariah. Pasangan ini dikaruniai lima orang anak, yakni Dewi Sri Putri Yanthi, Erni Kasim, Erawati Kasim, Muh. Arfan Kasim, dan Siti Sabaria Kasim.

Diketahui, Moh Kasim wafat pada 8 Agustus 1969. Meski perjalanan hidupnya tidak lepas dari ujian berat pada masanya, namun namanya tetap dikenang sebagai salah satu tokoh penting Buton yang meletakkan fondasi kepemimpinan dan pembangunan daerah, khususnya pada bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia.

Laporan: Alyakin

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *