Harga Telur “Meledak” di Pasar Wameo, Distribusi Diduga Jadi Pemicu, Pengawasan Pemerintah?

0
Harga Telur “Meledak” di Pasar Wameo, Distribusi Diduga Jadi Pemicu, Pengawasan Pemerintah?
👁️ 9 dibaca
Salah satu lapak penjual telur di pasar wameo, Kota Baubau (Foto: Alyakin)

Baubau, madingsultra.com — Harga telur di Pasar Wameo, Kota Baubau, melonjak tinggi dalam dua hari menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Kenaikan ini diduga dipicu perubahan pola distribusi setelah pasokan tidak lagi masuk langsung ke Baubau selama sepekan terakhir sehingga menekan harga di tingkat pedagang.

Kenaikan terjadi pada ukuran. Telur jumbo yang sebelumnya dijual Rp64.000–Rp70.000 kini naik menjadi Rp95.000 hingga Rp100.000 per rak. Ukuran sedang Rp58.000–Rp60.000 melonjak ke Rp85.000–Rp90.000, sementara ukuran kecil kini berada di kisaran Rp80.000 per rak.

Distribusi Berubah, Harga Melonjak

Pasokan telur yang biasanya berasal dari sulawesi selatan, seperti Kabupaten Sidrap dan dalam sepekan terakhir tidak lagi masuk langsung ke Baubau. Distribusi justru beralih melalui daerah lain sebelum kembali dipasok ke pasar.

Sejumlah pedagang menyebut jalur distribusi kini melalui Kabupaten Muna (Raha). Dari sana, telur kembali didatangkan ke Baubau dengan harga yang sudah naik sehingga pedagang tidak memiliki ruang untuk mendapatkan harga lebih rendah.

Perubahan jalur distribusi ini membuat rantai pasok menjadi lebih panjang. Ditambah lagi, pasokan dari luar daerah seperti Surabaya tidak masuk dalam sepekan terakhir sehingga pilihan pasokan semakin terbatas di tengah tingginya permintaan.

“Sekarang mahal karena kita ambil di agen juga mahal. Kemarin kita jual sekitar Rp68.000 sampai Rp70.000, sekarang sudah tidak bisa lagi,” ungkap pedagang di Pasar Wameo Melani, ketika di konfirmasi madingsultra.com Kamis (19/03/2026).

Ia menyebut harga dari agen kini mencapai Rp78.000 hingga Rp85.000 per rak, sehingga pihaknya terpaksa menjual kembali di kisaran Rp90.000 hingga Rp95.000.

Melani juga mengaku pasokan terbatas. Ia hanya mendapatkan sekitar 50 rak telur karena harus dibagi dengan pedagang lain di pasar wameo.

Menurutnya, agen yang biasanya mengambil dari Sidrap kini beralih dari Raha karena kapal tidak lagi singgah di Baubau dalam sepekan terakhir.

“Telur ini didatangkan dari Raha. Sudah satu minggu kapal tidak masuk di Baubau, jadi diambil dari sana. Itu juga yang bikin harga mahal,” jelasnya.

Hal senada disampaikan pedagang lainnya, Nenek Intan, yang menyebut kenaikan harga kali ini merupakan yang paling tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

“Baru tahun ini begini, harga cepat sekali naik. Biasanya tidak seperti ini,” katanya. Ia juga menyebut pasokan terbatas di tingkat agen.

Sementara itu, salah satu agen pemasok telur ketika di konfirmasi madingsultra.com enggan memberikan komentar.

Perbandingan Harga Antar Pasar

Menariknya, harga telur di pasar lain di Kota Baubau tidak setinggi di Pasar Wameo. Di Pasar Karya Nugraha, harga telur jumbo tercatat sekitar Rp86.000 per rak, ukuran sedang Rp80.000, dan ukuran kecil Rp78.000 rupiah.

Perbedaan harga ini membuat sebagian warga memilih beralih lokasi belanja. Salah satu ibu rumah tangga, Mama Ima mengaku lebih memilih membeli di Pasar Karya Nugraha karena harga di Pasar Wameo terlalu tinggi.

“Mahal sekali telur di Pasar Wameo, beda dengan Pasar Karya Nugraha,” ujarnya.

Kondisi ini menunjukkan adanya disparitas harga antar pasar dalam satu kota, yang diduga dipengaruhi perbedaan jalur distribusi dan sumber pasokan.

Sidak Sebut Harga Stabil, Fakta Lapangan Berubah

Beberapa hari sebelumnya, dikutip dari laman resmi Facebook Pemerintah Kota Baubau, Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) telah melakukan inspeksi mendadak (sidak) di Pasar Wameo. Dalam keterangannya, Wali Kota Baubau menyebut harga bahan pokok secara umum masih stabil dan belum menunjukkan lonjakan signifikan, meskipun stok telur mulai berkurang. Hal ini sebagian diduga karena tingginya penyerapan konsumsi untuk program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang berjalan.

Namun, hanya berselang beberapa hari setelah sidak tersebut, kondisi di lapangan justru berubah. Harga telur melonjak tajam hingga menembus Rp100.000 per rak.

Kenaikan harga telur tahun ini pun terbilang paling tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2025, harga telur jumbo masih berada di kisaran Rp70.000 per rak, sementara pada 2026 melonjak hingga Rp100.000 per rak.

Perbedaan Harga Antar Daerah

Kenaikan harga ini juga dikeluhkan warga. Seorang ibu rumah tangga mengaku kaget karena harga telur melonjak drastis.

“Mahal sekali, sekarang yang jual sudah Rp90.000, Rp95.000 dan Rp100.000. Kemarin masih Rp70.000,” ujarnya.

Ia berharap pemerintah dapat segera mengambil langkah untuk menjaga stabilitas harga, mengingat telur merupakan kebutuhan penting masyarakat.

Harga telur diperkirakan masih akan mengalami kenaikan hingga tujuh hari setelah Hari Raya Idul Fitri.

Menariknya, di Kabupaten Buton, tepatnya Kecamatan Pasarwajo, harga telur masih berada di kisaran Rp75.000 per rak. Kondisi ini berbeda dengan Kota Baubau yang justru mengalami lonjakan harga lebih tinggi.

Laporan: Alyakin

 

 

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *