Disperindagkop Akui Harga Telur di Pasar Wameo Melonjak, Sebut Stok Terbatas

0
Disperindagkop Akui Harga Telur di Pasar Wameo Melonjak, Sebut Stok Terbatas
👁️ 15 dibaca
Salah satu lapak penjual telur di pasar wameo, Kota Baubau (Foto: Alyakin)

Baubau, madingsultra.com — Harga telur di Pasar Wameo, Kota Baubau, mengalami kenaikan signifikan menjelang Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah. Kadis Perindustrian, Perdagangan, Koperasi, dan UMKM (Disperindagkop) Kota Baubau, Suarmawati mengakui bahwa kenaikan harga tersebut disebabkan kelangkaan stok.

“Betul, harga telur terjadi kenaikan yang signifikan menjelang hari raya Idul fitri, disebabkan karena stok telur dari produsen yaitu dari Sidrap dan Bone sangat terbatas yang diberikan kepada distributor telur yang ada di Kota Baubau” ungkap Kepala Disperindagkop, Suarmawati ketika di konfirmasi madingsultra.com melalui telpon selulernya, Kamis (19/3/2026).

Menurutnya, produsen besar yang ada di kabupaten Sidrap dan Bone Provinsi Sulawesi Selatan mendistribusi telurnya kepada dapur MBG sehingga berdampak terhadap kebutuhan distributor kota Baubau. Alhasil, stok terbatas dan harga menjadi tinggi di pasar wameo.

“Pemerintah setiap saat melakukan pengawasan terhadap distributor. Namun penyebab harga telur naik karena dari produsennya itu terbatas stoknya, misalnya distribrutor kita di kota Baubau meminta seribu rak telur, tapi dikasih 200 rak telur,” katanya.

Ia menambahkan, pada saat pelaksanaan pasar murah 8 Maret kemarin, stok telur masih banyak dan Polres Baubau juga pada Jumat lalu menggelar pasar murah yang difasilitasi melalui koordinasinya dengan distributor, dan harga telur saat itu masih Rp 63.000 rupiah per rak.

“Kami melaksanakan pasar murah pada tanggal 8 Maret harga telur masih Rp63.000 dan kami subsidi 15 ribu, sehingga harga Rp48.000 ribu dan terjual sebanyak 1.150 rak” katanya.

Namun, permintaan berikutnya, menurut konfirmasi dari distributor, hanya terpenuhi seperempat dari jumlah yang diminta produsen.
“Nanti setelah itu, pengirimannya terbatas, menurut penyampaian distributor yang kami datangi,” ujarnya.

Pihaknya mengakui bahwa distributor mengambil telur dari Kabupaten Muna (Raha). Di Muna, kebutuhan di sana tidak terlalu banyak, sehingga distributor mengambil dari wilayah tersebut. Namun, sumber utamanya tetap berasal dari Sidrap dan Bone.

“Penyebabnya karena biaya transportasinya, seperti itu, kita juga tidak bisa menekan distributor karena kost yang mereka keluarkan juga cukup besar,” katanya.

Disamping itu, Disperindagkop tidak pernah memprediksi kenaikan harga telur hingga Rp95.000  sampai Rp 100.000 rupiah, Kalau diprediksi, pihaknya pasti sudah melakukan mitigasi sejak awal.

Ia kembali menegaskan, menjelang momen Idul Fitri 1447 Hijriah, kenaikan telur ini terjadi karena stok dari sumbernya sangat terbatas, sehingga memerlukan pencermatan lebih baik, namun sebelum awal Ramadhan, telur dari Bone yang dikirim ke Jembatan Batu masuk dalam jumlah banyak, begitu juga dari Warurumah.

“Ini merupakan pelajaran kami kedepan bahwa hal seperti ini semoga tidak terjadi lagi dan kami dapat memprediksi sebelumya bahwa telur ini memang sekarang karena saya lihat MBG, rata rata mendiskusi ke anak anak sekolah telur artinya penggunaan telur terbagi juga dengan MBG dan konsumsi masyarakat pada umumnya begitu,” katanya.

Diperkirakan harga telur kemungkinan masih akan naik tujuh hari setelah Lebaran, karena tingkat kebutuhan masyarakat saat ini sangat tinggi sementara stok terbatas, sehingga harga sulit terkendali.

“Saya harap setelah selesai lebaran, biasanya secara perlahan harga telur kembali stabil.” pungkasnya.

Laporan: Alyakin

 

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *