Baubau Berpesta, Rakyat Bertahan: Saat Lampu Kota Menyala di Atas Luka

0
Baubau Berpesta, Rakyat Bertahan: Saat Lampu Kota Menyala di Atas Luka
👁️ 109 dibaca

OPINI – Penulis Alyakin

Baubau kembali berpesta, tapi rakyat tetap bertahan di kenyataan yang pahit. Kota ini menyalakan lampu megah, menyiapkan panggung hiburan, dan mengundang pejabat dari segala penjuru. Wakil Menteri Dalam Negeri hadir, Gubernur Sultra hadir,Wakil Gubernur Sultra, para bupati hadir dan semua tersenyum di atas panggung yang dibayar dari keringat rakyat, sementara di pinggiran kota, warga kecil masih menunggu perhatian yang tak kunjung datang.

Selama sebulan penuh, sejak awal Oktober hingga awal November, HUT Baubau dirayakan seperti pesta tanpa ujung. Umbul-umbul dipasang, spanduk dibentangkan, dan mikrofon tak pernah sepi. Tapi di balik gegap gempita itu, ada kota lain yang tak ikut berpesta, di pinggir jalan lingkar, bypass Waruruma, dan Wantiro, tempat pelaku UMKM menunggu pembeli yang sepi.

Festival demi festival digelar. Dari Pakandeana Ana Ana Maelu hingga Festival Perairan Baubau, semuanya dipromosikan dengan narasi indah: “Baubau bangkit, Baubau berdaya.” Tapi siapa yang benar-benar berdaya? Apakah pedagang kecil yang tetap berjuang di dapur sempit dengan kompor sederhana juga merasakan kebangkitan itu?

Panggung penuh pejabat, tapi mungkin kosong gagasan. Di sisi lain kota, tawuran antar pemuda pecah, dengan busur, parang, dan batu. Terdapat korban luka parah, namun berita itu seolah tenggelam di tengah dentuman musik malam hiburan yang menghadirkan artis luar kota. Kita menari di atas luka sendiri.

Rakor Kepala Daerah se-Sultra bersama Wamendagri batal. Tapi pesta tetap berjalan. Listrik menyala untuk konser, bukan untuk dialog. Di Baubau, pesta sering lebih penting daripada percakapan yang bisa menyelesaikan masalah nyata.

Pemerintah kota ingin menunjukkan Baubau tumbuh. Tapi pertumbuhan apa yang dirayakan ketika ekonomi berputar hanya di pusat kota? Festival kuliner hanya menampilkan mereka yang mungkin punya akses, bukan mereka yang bekerja keras di dapur terbatas demi menghidupi keluarga.

Ironi semakin lengkap ketika gubernur Sultra mengingatkan bahwa HUT seharusnya menjadi evaluasi dan ajang transparansi. Tapi peringatan itu lewat begitu saja — seperti angin malam di atas tenda VIP. Yang diingat justru selfie, bukan substansi.

Baubau indah di baliho, tapi rapuh di kenyataan. Di bawah lampu warna-warni Kotamara, pantai kamali, namun masih ada anak muda kehilangan arah. Di balik sorak lomba perairan, warga menatap laut bukan untuk berpesta, tapi mencari nafkah di tengah harga ikan yang kian tak menentu.

Mereka menyebut ini “perayaan rakyat”, padahal rakyat kebanyakan hanya penonton. Yang bekerja keras hanya meramaikan, bukan menikmati. Yang bersuara keras sering diminta diam — kritik dianggap gangguan, bukan bagian dari cinta kota.

Pedagang UMKM di pinggiran menunggu pembeli di jalan sepi. Dapur mereka sederhana, kompor seadanya, namun tetap menghasilkan. Lampu panggung megah tak menembus mereka. Kemakmuran hanya hadir di pusat kota, meninggalkan mereka di tepi bayangan perayaan.

Tawuran pemuda menjadi simbol lain dari kegagalan kota menyatukan perayaan dengan kenyataan. Parang, busur, batu — kekerasan yang seharusnya dicegah malah berjalan beriringan dengan kemeriahan. Satu korban luka parah menjadi pengingat tragis bahwa pesta tak bisa menutupi luka sosial.

Anggaran HUT tidak transparan. Media lokal maupun Kominfo tidak mendapat rincian, meninggalkan pertanyaan tentang siapa sebenarnya yang diuntungkan dari pesta ini. Lampu kota dan tenda VIP mempesona, tapi informasi dan akuntabilitas tidak menyala.

Baubau tak butuh pesta lebih besar. Yang dibutuhkan adalah keberpihakan nyata kepada semua warga, perhatian kepada UMKM di pinggiran, dan keberanian pejabat untuk melihat kenyataan di luar tenda VIP.

Kota tidak akan maju hanya dengan lampu sorot dan sambutan panjang. Kota maju karena warganya merasa dilihat, dihargai, dan dilibatkan — bukan karena panggung yang ramai tapi hati yang sepi.

Pesta boleh berakhir, tapi luka sosial tidak ikut padam. Setelah musik berhenti, pertanyaan harus diangkat: apakah Baubau sedang merayakan kemajuan, atau justru menertawakan kenyataan? Selama dua dunia itu tak bertemu — yang bersinar di Kotamara, pantai kamali dan yang berdarah di jalan — semua pesta hanyalah ilusi kemajuan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *