Kementerian Investasi Dorong Inovasi Lewat Kolaborasi “Triple Helix”

0
Kementerian Investasi Dorong Inovasi Lewat Kolaborasi “Triple Helix”
👁️ 16 dibaca
Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Nurul Ichwan (kiri) saat menerima laporan “Bisnis AS untuk Indonesia” (BISA) bertema “Strengthening Indonesia’s Future through US-Indonesia Business Collaboration” oleh US-ASEAN Business Council (USABC) di Jakarta. (Istimewa)

Jakarta, madingsultra.com — Deputi Bidang Promosi Penanaman Modal Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Nurul Ichwan, menegaskan pentingnya penerapan konsep “triple helix” sebagai strategi memperkuat inovasi dan pertumbuhan ekonomi berbasis pengetahuan di Indonesia.

“Jadi antara pemerintah, dunia usaha, dan juga akademisi—termasuk sektor riset dan pengembangan—harus terjalin kerja sama yang erat,” ujar Nurul dalam peluncuran laporan “Bisnis AS untuk Indonesia” (BISA) bertajuk “Strengthening Indonesia’s Future through US-Indonesia Business Collaboration” yang digelar US-ASEAN Business Council (USABC) dikutip antara, Jakarta, Selasa, (14/10/2025).

Menurut Nurul, selama ini kolaborasi antara tiga unsur tersebut masih lemah. Para akademisi dan pelaku usaha berjalan sendiri-sendiri, sementara pemerintah belum banyak melibatkan perguruan tinggi dalam perumusan kebijakan pengembangan industri, teknologi, dan bisnis.

“Pemerintah belum menempatkan universitas sebagai bagian dari desain kebijakan industri dan teknologi. Padahal, mereka adalah sumber inovasi,” ujarnya.

Ia menilai akar persoalan terletak pada pandangan yang menempatkan pendidikan sebagai bisnis. Akibatnya, banyak universitas lebih fokus membuka program studi sosial ketimbang bidang STEM (Sains, Teknologi, Rekayasa, dan Matematika) yang sejatinya menjadi fondasi penguatan industri nasional.

“Kenapa? Karena membuka jurusan STEM itu mahal, butuh laboratorium. Sementara jurusan komunikasi tinggal buka kelas, presentasi, selesai. Tapi pendekatan seperti ini tidak memperkuat backbone industri nasional berbasis teknologi,” jelasnya.

Untuk menjembatani kesenjangan tersebut, Kementerian Investasi bekerja sama dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) serta Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) dalam menyelenggarakan kegiatan Indonesia Inventor, Innovator, and Investor Summit yang kini tengah dalam tahap pematangan.

Selain itu, BKPM juga menyiapkan program pelatihan teknologi bagi setiap investor baru di Indonesia. Melalui program ini, perguruan tinggi setempat akan dilibatkan sebagai mitra pelatihan dan pengembangan teknologi.

“Kami sudah punya kesepakatan: di mana investasi berada, di situ akan dicari universitas yang bisa memfasilitasi. Fasilitas kampus akan digunakan untuk mendukung pelatihan, kecuali jika teknologi yang dibutuhkan belum tersedia. Dalam hal itu, investor bisa membawa prototype atau model teknologi mereka untuk dikembangkan di Indonesia,” pungkas Nurul. (adm)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *