ITS dan Asosiasi Pendidikan Dorong Kolaborasi Industri-Universitas di Era AI


Jakarta,Madingsultra.com — Perkembangan kecerdasan buatan (AI) dan big data menuntut dunia pendidikan tinggi untuk beradaptasi cepat. Perguruan tinggi kini dituntut tidak hanya mengajar, tetapi juga berkolaborasi dengan industri guna mempercepat modernisasi sistem pendidikan di Indonesia.
Hal itu disampaikan oleh Aslam, Director of National Association of Private Education Institution, dalam sebuah forum pendidikan di Jakarta. Ia menilai, kemitraan strategis antara universitas dan industri menjadi fondasi utama transformasi pendidikan di era digital.
“Universitas perlu melakukan modernisasi. Jika ingin memperbarui infrastruktur, maka harus bermitra dengan industri. Karena yang bisa menyediakan itu adalah industri,” ujar Aslam, dikutip dari liputan6.com Jumat (3/10/2025).
Menurut Aslam, konsep kolaborasi kini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan. Dunia pendidikan modern, katanya, dibangun atas dasar kebersamaan antara akademisi dan pelaku industri.
“Konsep kebersamaan, kolaborasi, dan kemitraan adalah realitas masa kini. Inilah hakikat dari platform pendidikan global hari ini,” tegasnya.
Sementara itu, Rektor Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Bambang Pramujati menekankan pentingnya pembagian peran antara dunia pendidikan dan industri.
Menurutnya, universitas berperan menyediakan sumber daya manusia, riset, dan inovasi, sedangkan industri berkontribusi dalam infrastruktur dan penerapan hasil riset secara nyata.
“Universitas menyediakan riset dan pakar akademis, sementara perusahaan teknologi menyediakan infrastruktur dan perangkat yang skalabel. Itulah kunci bagaimana keduanya memanfaatkan AI, karena universitas dan industri tidak bisa dipisahkan,” ujar Bambang.
Ia menambahkan, tanpa keterlibatan industri, banyak hasil riset kampus yang berakhir hanya sebagai laporan akademik. Kolaborasi erat diperlukan agar inovasi bisa diimplementasikan secara luas dan berdampak bagi masyarakat.
Aslam menegaskan perlunya perubahan pola pikir di kalangan perguruan tinggi. Menurutnya, universitas tidak lagi bisa berperan hanya sebagai konsumen teknologi.
Kini, peran tersebut harus bergeser menjadi kolaborator aktif yang ikut menciptakan solusi bersama industri.
“Pendidikan tinggi bukan lagi organisasi yang membeli perangkat lunak dari industri. Mereka bukan dua entitas yang terpisah. Ini bukan pengadaan, tetapi penciptaan bersama,” kata Aslam.
Ia menambahkan, universitas memiliki “the brains” — para profesor, peneliti, dan akademisi — yang harus diberdayakan agar kolaborasi menghasilkan teknologi sesuai kebutuhan pendidikan.
“Inilah bentuk kolaborasi strategis yang saling menguntungkan,” ujarnya.
Bambang juga menyoroti pentingnya kebijakan dan regulasi penggunaan AI dan big data di lingkungan akademik agar penerapannya tetap etis dan bertanggung jawab.
“Kita perlu memastikan penggunaan AI dan big data dilakukan secara bertanggung jawab. Kebijakan harus hadir di tiga tingkatan: institusi, nasional, dan global,” jelasnya.
Pada tingkat institusi, ITS telah menetapkan pedoman penggunaan AI dalam pengajaran, riset, dan penilaian untuk menjaga integritas akademik.
Secara nasional, perguruan tinggi wajib mematuhi aturan perlindungan data pribadi, sedangkan di tingkat global, kebijakan harus selaras dengan panduan UNESCO yang menekankan transparansi, akuntabilitas, dan desain teknologi berpusat pada manusia.
“Prinsipnya sederhana: inovasi hanya bisa berjalan secepat tingkat kepercayaan,” tutup Bambang. (adm)
